MAR
07
Ramadan 2026: Sehat Secara Spiritual dan Finansial
Sabtu, 07 Maret 2026
Dilihat: 131
Dosen Universitas Hayam Wuruk Perbanas, Evi Sistiyarini, S.E., M.M., mengingatkan akan pentingnya menjaga kesehatan keuangan atau financial health selama menjalani beragam kegiatan di bulan Ramadan.
“Di bulan Ramadan saat ini banyak sekali pengeluaran yang kita keluarkan, seperti acara bukber, hampers, persiapan Lebaran, atau bahkan persiapan untuk tiket mudik. Lalu apakah kondisi keuangan kita sudah kita kelola dengan baik atau belum? Inilah yang perlu kita perhatikan dalam konteks financial health,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam perspektif keuangan syariah, kesehatan finansial tidak hanya diukur dari stabilitas keuangan, tetapi juga dari sumber penghasilan yang halal serta cara pengelolaannya yang bijak. “Dalam keuangan syariah itu tidak hanya stabil dalam keuangan tetapi juga halal sumbernya. Bijak dalam mengelola keuangan, bebas riba, tidak berlebihan, dan tentunya kita masih mampu untuk bisa berbagi terhadap sesama,” jelas Dosen Sarjana Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHW Perbanas itu.
Pihaknya menyarankan, ada strategi sederhana yang dapat dilakukan oleh masyarakat agar tetap memiliki kondisi keuangan yang sehat selama Ramadan. Langkah pertama adalah membuat perencanaan keuangan khusus selama bulan Ramadan. Dengan adanya rencana anggaran, seseorang dapat mengontrol berbagai pengeluaran tambahan yang biasanya muncul di bulan ini.
“Yang pertama adalah buat perencanaan keuangan selama bulan Ramadan. Dengan begitu kita bisa mengetahui prioritas kebutuhan dan menghindari pengeluaran yang tidak terkontrol,” kata Evi.
Selanjutnya, ia menekankan pentingnya mendahulukan kewajiban zakat sebelum mengalokasikan dana untuk kebutuhan lainnya. “Jangan lupa untuk selalu mendahulukan zakat, yaitu sebesar 2,5 persen dari total penghasilan kita, dan juga sisihkan sebagian untuk infak serta sedekah,” ungkapnya.
Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk tetap menyisihkan dana untuk tabungan dan dana darurat, meskipun sedang banyak kebutuhan selama Ramadan. “Alokasikan dana untuk simpanan, misalkan sekitar 20 persen untuk tabungan dan juga dana darurat,” tambahnya.
Maraknya promo dan diskon Ramadan, Evi mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam berbelanja. Diskon sering kali memicu pembelian impulsif yang sebenarnya tidak diperlukan. “Di tengah banyaknya promo dan juga diskon Ramadan, tanyakan pada diri sendiri apakah kita benar-benar butuh produk tersebut dan apakah saldo kita cukup. Kalau tidak, maka kita tunda pengeluaran tersebut,” tegasnya.
Gaya hidup sosial seperti buka puasa bersama juga tetap dapat dilakukan, namun perlu dibatasi agar tidak mengganggu kondisi keuangan. “Beri batas nominal untuk acara buka puasa bersama. Misalnya kita anggarkan 10 persen dari penghasilan kita, dan harus berani untuk bilang stop jika sudah melewati batas tersebut,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyarankan masyarakat untuk melakukan simulasi kondisi keuangan setelah Ramadan berakhir, terutama menjelang Lebaran. “Buat simulasi kondisi keuangan kita setelah bulan Ramadan. Apakah saldo kita masih mencukupi? Kalau ternyata tidak mencukupi setelah Lebaran, maka kita harus mengatur ulang kembali pengeluaran kita di bulan Ramadan,” ujarnya.
Pada akhirnya, Ramadan tidak hanya menjadi momen meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga kesempatan untuk melatih pengendalian diri dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam mengelola keuangan. “Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Mari jadikan momen ini bukan hanya sehat secara spiritual, tetapi juga sehat secara finansial,” pungkas Evi. (eko/hms)

